Apa Itu Stroke Iskemik?
Stroke iskemik
Stroke iskemik adalah stroke akibat adanya gumpalan darah yang menyumbat pembuluh darah di otak. Kondisi ini menyebabkan suplai oksigen dan nutrisi ke otak terganggu. Stroke iskemik merupakan kondisi gawat darurat, karena dapat menyebabkan kematian sel-sel otak dalam hitungan menit.
Secara umum, stroke terbagi menjadi dua jenis, yaitu stroke iskemik dan stroke hemoragik. Stroke Hemorragik disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah di otak. Sedangkan stroke iskemik terjadi ketika pembuluh darah di otak tersumbat.
Stroke iskemik dikenal juga dengan stroke infark. Stroke ini merupakan jenis yang paling sering terjadi.
Penyebab Stroke Iskemik
Penyebab utama stroke iskemik adalah aterosklerosis. Arterosklerosis dapat menimbulkan dua jenis gumpalan darah, yaitu :
- Trombosis, yaitu pembentukan gumpalan darah di salah satu pembuluh darah arteri yang memasok darah ke otak. Gumpalan darah ini bukan berasal dari pembuluh darah lain.
- Emboli, yaitu pembentukan gumpalan darah di organ lain, misalnya jantung atau arteri besar di leher dan dada. Gumpalan darah ini kemudian lepas dan mengalir ke pembuluh darah otak.
Faktor risiko stroke iskemik
Risiko terjadinya stroke iskemik pada seseorang bisa meningkat karena beberapa kondisi atau faktor berikut ini:
- Usia di atas 55 tahun
- Hipertensi
- Penyakit jantung
- Gangguan irama jantung (aritmia)
- Diabetes
- Kebiasaan merokok
- Terapi hormon
- Riwayat TIA atau serangan jantung
- Kolesterol tinggi
- Jarang berolahraga atau beraktivitas fisik
- Obesitas
- Kecanduan alkohol
- Penggunaan narkoba
Gejala
dan Tanda Stroke
Manifestasi klinik pada pasien stroke pada umumnya
mengalami kelemahan pada
salah satu sisi tubuh dan kesulitan dalam berbicara atau
memberikan informasi
karena adanya penurunan kemampuan kognitif atau bahasa. Gejala klinis yang
dialami pada pasien stroke menurut
American Stroke Association, 2016,
antara lain:
a.
Mendadak mengalami mati rasa atau kelemahan pada
wajah, lengan atau kaki, terutama pada satu sisi tubuh.
b.
Mendadak
kebingungan, kesulitan bicara atau memahami pembicaraan.
c.
Mendadak
mengalami gangguan penglihatan pada satu atau kedua mata.
d.
Mendadak
mengalami gangguan berjalan, pusing, kehilangan keseimbangan atau koordinasi.
e. Mendadak mengalami sakit kepala tanpa sebab. Tanda dan gejala stroke sering terjadi secara mendadak yang kemudian dapat langsung meningkat atau memburuk secara perlahan, tergantung pada jenis stroke dan area otak yang terkena.
Penatalaksanaan Terapi Stroke
Secara umum penatalaksaan stroke dimulai dengan
evaluasi dan diagnosis yang cepat karena theraupetic window stroke
akut yang sangat pendek, evaluasi juga harus dilakukan secara sistemik dan cermat yang meliputi anamnesis,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan neurologis dan skala
stroke. Terapi umum yang diberikan
untuk stroke meliputi stabilisasi jalan napas dan pernapasan, stabilisasi
hemodinamik, pemeriksaan awal fisik umum (tekanan
darah, jantung, neurologi umum awal), pengendalian peninggian tekanan intrakranial, penanganan
transformasi hemoragik, pengendalian kejang, pengendalian suhu tubuh dan
pemeriksaan penunjang (EKG dan CT-Scan).
Tujuan dari terapi stroke, antara lain :
(1) Mengurangi terjadinya cederaneurologis dan
menurunkan angka kematian serta kecacatan jangka panjang;
(2) mencegah terjadinya komplikasi sekunder, yaitu imobilitas dana disfungsi
neurologis;
(3) mencegah terjadinya stroke berulang.
Terapi Khusus Stroke
Stroke iskemik biasanya merupakan hasil
dari emboli atau mekanisme trombolitik. Seberapa parah cedera otak tergantung pada
waktu munculnya gejala hingga reperfusi,
munculnya sirkulasi kolateral dan ukuran otak yang terkena infark (biasa disebutk nekrotik
inti) dimana pasokan darah berkurang secara signifikan dan metabolisme
dipertahankan dengan aliran kolateral (yang disebut
penumbra). Prinsip dari manajemen stroke iskemik sangat sederhana, yaitu mengembalikan
aliran darah pada daerah yang terjadi infark sesegera mungkin tanpa menyebabkan
perdarahan intraserebral.
Strategi yang mungkin untuk mengatasi stroke iskemik adalah dengan melakukan
manajemen faktor resiko dan perubahan gaya hidup, seperti manajemen hipertensi,
berhenti merokok, berolahraga secara teratur, melakukan diet, tidak
mengkonsumsi alkohol serta menghindari stress. Strategi pengobatan stroke
iskemik secara luas dibagi menjadi dua kategori yaitu:
a. Neuroprotection, untuk mencegah
kematian saraf otak pada iskemik serebral fase akut.
b. Reperfusi yaitu memperbaiki
aliran darah ke otak yang bertujuan untuk memperbaiki area iskemik dengan
obat-obat antitrombotik.
Pada pasien stroke iskemik menunjukkan onset gejala dalam beberapa jam dan harus dievaluasi untuk terapi reperfusi. Peningkatan tekanan darah harus segera ditangani selama periode akut yaitu 7 hari pertama setelah stroke iskemik karena resiko penurunan aliran darah ke otak dan akan memperburuk gejala. Tekanan darah harus diturunkan jika terjadi peningkatan tekanan darah hingga 220/120 mmHg atau terbukti adanya IMA, edema pulmonaris, ensefalopati hipersensitif. Jika tekanan darah diobati pada fase akut terapi parenteral dengan kerja cepat lebih direkomendasikan. Namun dalam batasan tertentu penurunan tekanan darah pada pasien stroke fase akut dengan kondisi darurat sebagai tindakan rutin tidak dianjurkan karena dapat memperburuk kondisi pasien, menimbulkan kecacatan dan kematian.
Komentar
Posting Komentar